Kamis, 16 Oktober 2008

Di Persimpangan Itu....

aku seperti berhenti di persimpangan jalan
tak tahu harus kemana
kakiku kan kulangkahkan
semuanya gelap

meski ku coba tuk meraba
melihat dengan mata jauh
ke mana arah yg tepat
hanya kutemukan peluh

ingin sekali aku segera berteduh
hari ini panas sungguh terasa
kaki ini seperti terbakar
panas oleh jalan yang melepuh

ya... sangat ingin aku berteduh
agar aku dapat kembali
menata semrawutnya hidup
dari segala yang merintangi

tiba-tiba angin berhembus kencang. Sangat kencang sekali sehingga langit yang mulanya sangat cerah, sekarang menjadi sangat gelap. Awan hitam bergulung-gulung menutup seluruh langit. Matahari seperti hilang. Tak lagi angkuh dengan sinarnyayang panas seperti sebelumnya. Semua binatang seperti menghilang, mungkin mereka takut akan cuaca yang berubah dengan tiba-tiba dan sangat menakutkan itu. Petir mulai meyambar-nyambar. Menjilat permukaan bumi. Seketika menghanguskan apa saja yang dijilatnya. Sungguh tak ada yang kuasa untuk melawannya. Hujang kemudian turun dengan sangat deras, deras sekali. Airnya seperti meotok seluruh kepalaku. Aku hanya terdiam saja sedari tadi di persimpangan itu. Kakiku kaku, tak mampu sepertinya aku melangayunkan kakiku tuk beranjak dari situ. Aku hanya mampu melihat semua bencana di depanku.....
Namun tiba-tiba dari langit turun cahaya sangat terang, menyibak mendung dan gumpalan awan. Cahaya itu begitu kuatnya sehingga mataku harus kukerlipkan bahkan sesekali kupejamkan. Tak sanggup aku melihatnya. Bersamaan dengan itu, bumi terasa bergoyang sangat kencang, ya, gempa bumi...gempa dengan kekuatan yang luar biasa....
Aku sangat ketakutan. Tubuhku seperti berguling-guling karena goncangan itu. Hampir-hampir aku tak kuasa mengendalikan tubuh ini. Berguling, berguling, dan terus berguling. Aku benar-benar tak kuasa......Aku berteriak sangat keras...kupikir karena mungkin ajalku akan segera tiba....Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar......
Ditengah teriakanku yang sangat keras itu aku sepertinya mendengarkan suara seperti memanggil-manggilku.
"Mbor....mbor..mbor...istighfar mbor!!!" Suara itu kemudian di susul dengan suara yang lain. "Mbor...bangun he...kamu sudah tertidur sekian lama...."
"hayo bangun....!!"
"Pak min sudah mau tutup nih warunge...!"
Rupanya aku tertidur di warung Pak Min pada malam hari itu. Suara klakson mobil-mobil yang sedang lewat, sinar senter yang ditujukan di mataku dan guyuran air minum tak membuatku segera bangun. Hehehe....ini sungguh memalukanku.

...............

Senin, 01 September 2008

Laskar Pelangi The Movie (2008)


Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis: Salman Aristo, Riri Riza
Pemeran: Lukman Sardi, Cut Mini, Slamet Rahardjo Djarot, Matias Muchus, Ario Bayu, Alex Komang, Jajang C Noer, Tora Sudiro, Robbie Tumewu, Ikranegara, Rieke Dyah PitalokaMusik oleh: Titi Syuman, Aksan Syuman
Distributor: Miles Production dan Mizan Sinema
Rilis: 29 September 2008

Laskar Pelangi Siap di Layar LebarKolaborasi
Peran 12 Anak Belitong Asli dengan 12 Aktor Profesional Indonesia

Setelah sukses menjadi novel best seller dengan penjualan lebih dari 500.000 eksemplar, kini Laskar Pelangi siap diangkat ke layar lebar dan akan memasuki tahap syuting pada tanggal 25 Mei 2008. Film ini diproduksi oleh Miles Films bekerjasama dengan Mizan Cinema Productions, ”B” Edutainment dan Iluni UI.

Laskar Pelangi adalah sebuah kisah anak bangsa yang menggambarkan perjuangan guru dan 10 siswa di Belitong untuk sebuah pendidikan. Ide pembuatan film ini berawal dari rasa kagum Mira Lesmana dan Riri Riza selaku Produser dan Sutradara film ini terhadap buku karya Andrea Hirata yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004. “Buku Laskar Pelangi sanggup membuat kita tiba-tiba merasa bangga jadi orang Indonesia dan memompa semangat serta optimisme kebangsaan, dengan hadirnya karakter anak-anak Laskar Pelangi, Ibu Muslimah dan Bapak Harfan,” ucap Mira Lesmana selaku Produser film ini.

Selaku sutradara film Laskar Pelangi, Riri Riza mengungkapkan: “Laskar Pelangi memiliki cerita yang unik dan penuh dinamika dengan hadirnya 10 siswa dengan kararkter yang sangat kuat dan seorang guru ambisius yang mempunyai cita-cita besar dan luhur. Dan Andrea Hirata adalah faktor yang sangat penting kenapa kami ingin memfilmkan buku Laskar Pelangi ini. Saat pertama kali ketemu dengan Andrea, ada antusiasme yang terlihat di dirinya. Bertemu Andrea Hirata seperti melihat matahari yang bersinar keras sekali dan sangat inspiring.”Bagi sang penulis, Andrea Hirata, bukan hal yang mudah untuk mengijinkan karya sastra pertamanya ini untuk difilmkan. Jelas Andrea mempunyai alasan khusus kenapa ia mempercayakan penggarapan film Laskar Pelangi ini kepada Mira Lesmana dan Riri Riza. “Ada beberapa alasan kenapa saya rela menyerahkan cerita Laskar Pelangi ini kepada Mira Lesmana dan Riri Riza. Pertama, Mira dan Riri adalah sineas yang memiliki integritas, yang tidak semata melihat keinginan pasar dalam membuat karyanya. Kedua, Mira dan Riri mempunyai talent yang langka dalam membuat sebuah karya seni. Mereka bisa membuat film box office, tapi tetap bermutu. Dan setelah lama bergaul dengan mereka, saya semakin yakin kalau kedua sineas ini mempunyai indra keenam dalam membuat sebuah karya dan mempunyai perspektif yang unik,” ungkap Andrea.

Sementara menurut Putut Widjanarko, Vice President Operation Mizan Publika, dengan terjunnya Mizan dalam produksi film ini merupakan konsekuensi logis dari strategi pengembangan Mizan ke depan. “Mizan Prouductions sangat bangga bekerjasama dengan Miles Films menghadirkan film yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat Indonesia ini. Apalagi buku best seller Laskar Pelangi adalah terbitan salah satu penerbit dalam kelompok Mizan, yaitu penerbit Bentang Pustaka.”Setelah melewati proses pertemuan dan diskusi dengan sang penulis selama satu tahun, akhirnya Juli - Desember 2007, proses penulisan skenario yang ditulis oleh Salman Aristo, dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana pun dimulai. Dan persiapan produksi pun sudah dilakukan sejak Juli 2007 lalu dengan melakukan proses penulisan skenario, survey lokasi, serta casting para pemain Laskar Pelangi. “Dalam proses pembuatan film ini hampir 100% pengambilan gambar dan syuting dilakukan di Belitong. Dan satu hal yang cukup istimewa di film ini, 12 orang pemain, 10 Laskar Pelangi dengan dua karakter pelengkap yang memerankan Flo dan A Ling, semuanya asli dari Belitong,” cerita Mira, antusias.

Adapun keinginan Rira dan Mira untuk menampilkan anak-anak asli Belitong agar chemistry antara cerita dan para pemain muncul secara real dan natural. “Sejak awal kami memang tidak terpikirkan untuk menggunakan pemain di luar kota Belitong untuk tokoh-tokoh anak Laskar Pelangi. Jadi proses hunting dan casting pemain pun sudah kami lakukan sejak awal persiapan produksi,” ujar Riri. “Meskipun anak-anak ini belum berpengalaman dan awam dengan dunia akting, tapi mereka ini adalah anak-anak yang sangat berbakat, punya keberanian, mau mencoba, dan yang terpenting, mereka bisa mempresentasikan tokoh-tokoh utama di film ini,” lanjut Mira.


Setelah menjalani proses hunting dan casting di Belitong, akhirnya terpilih juga 12 orang pelajar Belitong yang akan memerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling.

Meski begitu, bukan berarti Mira luput menampilkan para pemain profesional. 12 nama aktor profesional pun turut tampil meramaikan film ini, seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, JaJang C. Noer, dan Teuku Rifnu Wikana .

Film yang diperuntukkan bagi semua umur dan kalangan ini rencananya akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia pada liburan Lebaran 2008 ini.

(http://imelmow.multiply.com/)

Kamis, 21 Agustus 2008

Hai Orang


Teater Gidag Gidig mementaskan Hai Orang (11/8) di Teater Arena Taman Budaya Surakarta. Hai Orang, naskah dan sutradara Hanindawan ini lahir dari penghayatan panjang tentang perilaku, perangai, polah tingkah, orang-orang. Dimana –mana, di ruang pengadilan, di kantor, di kantor polisi, di rumah skit, di pinggir jalan, di jalan raya, pasar, tempat hiburan di tengah-tengah hutan bahkan di dalam rumah. Banyak orang-orang kini menjelma menjadi “monster” membuka lebar-lebar mulutnya, menghunus pisau, menikam, mengobrak-abrik, dan tak peduli!! Lalu tak lagi punya rasa empati.
Naskah pendek ini berkisah tentang para mayat yang tidak pernah dipedulikan oleh orang-orang. Sebuah metafor untuk menghardik kepada banyak orang. Hai orang!! Buka Matamu! Buka Kupingmu! Buka Hatimu!

Tentang Gidag Gidig


Teater yang cukup tua usianya di solo, berdiri sejak 22 Desember 1976. sejak tahun 1999, teater ini mengadakan program rutin sebulan sekali bertajuk teater untuk tetangga yang mengundang kelompok-kelompok kesenianuntuk berpentas di Sanggar Gidag Gidig. Dan juga pentas keliling kampung-kampung untuk membuka ruang-ruang ekspresi berkesian di kota Solo. Hingga saat ini telah banyak mempunyai jaringan di kota-kota lain di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Jogja, Malang, Surabaya, dll.

PETHOI




Independent Expression yang dimotori oleh Boby Ari Setiyawan dengan para penari Agus Margianto, Dedy Satya Ardhana, Safrina, Gambuh, Ayu dan Boby menampilkan tari yang berjudul Pethoi (13/8) di TBS Surakarta. Pethoi adalah nama busana Atari Hudo dari Kalimantan Timur, merupakan salah satu yang melatarbelakangi ide garap karya ini. pethoi menggarap suasana-suasana keresahan dalam setiap adegan, sebagai hasil intepretasi koreografer dalam mensikapi kondisi hutan yang rusak, penebangan dan penambangan di hutan yang tak ada habisnya.

Teater Kail : Tragedi Murni

Tragedi Murni menyajikan sebuah tema universal dan aktual, yaitu hilangnya Murni. Karya ini merupakan pertunjukan puisi yang dikemas dengan teater.

Naskah/Sutradara/Artistik : Sutarno SK
Ass Sutradara : Andreas Wjatno
Alamat : Jl. Makaliwe I Rt.07/06, Grogol, Jakarta Barat 11450

Putu Wijaya : Monolog "Merdeka"






Teater Tokek : Bunga Rumah Makan




Sandiwara “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani ini, berkisah tentang seorang pelayan sebuah rumah makan Sambara bernama Ani. Sosok Ani yang cantik, supel dan terkadang keras, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung rumah makan itu.
Kendati hanya satu babak, Utuy juga memasukkan berbagai macam tokoh dalam dramanya yang lalu-lalang dalam tiap adegannya. Hingga akhirnya ada aroma cinta segitiga yang menjadi sentral klimak sandiwara itu.
Ya dipenghujung kisah, cinta Karnaen yang menjabat manajer rumah makan terhadap Ani tiba-tiba harus kandas. Karena Ani ternyata justru mencintai seorang Kapten tentara bernama Suherman. Namun ternyata tidak hanya berhenti begitu saja. Sikap Suherman yang begitu arogan di penghujung cerita, justru membuat Ani akhirnya harus berpaling kendati pahit dirasakannya.
Perempuan yatim piatu itu, ternyata justru siap hidup semati bersama Iskandar. Seorang gelandangan yang tak punya pekerjaan. Namun justru mempunyai kejujuran dan kebenaran dalam setiap tindakannya.
Ya, Ani memang telah memilih. Perempuan pelayan sekaligus “Bunga rumah makan” itu akhirnya meninggalkan pekerjaannya, demi sebuah cinta dan kejujuran bersama Iskandar.

Teater Tokek


Bersdiri tahun 1998 pada tanggal 29 bulan Februari. Teater Tokek adalah sebuah metamorphose dari sejumlah nama teater yang pernah dipakai para anak muda yang selalu gelisah mementaskan naskah-naskah drama realis. Realisme memang sebuah pilihan kami. Maka dengan berbekal semangat dan ketekunan, kami hanya berharap untuk mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi penonton.



Tirai



Sanggar Manira Tari kembali mementaskan repertoarnya yang kali ini diberi judul TIRAI (10/8) di Taman Budaya Surakarta. Menurut Adisna Kumara sebagai penata tarinya, Tirai bisa menjadi pelengkap interior yang manis, atau pelindung ruangan dari panas sinar matahari. Tirai bisa menandakan bahwa ruang di dalam bersifat pribadi. Ada juga tirai yang menjadi tempat untuk menyembunyikan perilaku orang-orang di baliknya. Dan, tirai kami adalah penutup yang luwes, dimana orang bisa ke luar masuk, menerima ke dalam dan melepas ke luar, mereka yang lalu lalang.

Tentang Manira Tari


Sanggar yang dipimpin oleh Ibu Wied Senjayani yang berlokasi di Jl Semeru, Ringin Semar Surakarta ini berdiri pada tanggal 03 Desember 1985. sanggar ini lahir untuk menyikapi/keprihatinan terhadap generasi muda yang semrawut, menjadi awal untuk memberikan pendidikan kesenian kepada anak-anak muda yang diharapkan dapat menjadi filter bagi masuknya budaya modern yang kurang sesuai dengan budaya kita. Menekankan latihan pada ballet klasik dan modern jazz, ditambah improvisasi yang berkembang kepenciptaan karya koreografi.

Rabu, 20 Agustus 2008

AMARI SOLO



Amari (Ansambel Musik Anak dan Remaja Indonesia) Solo yang berdiri sejak 14 Mei 2005, merupakan wadah pengembangan musik anak dan remaja yang dikembangkan dengan pendekatan holistik. Sehingga terbentuk jiwa anggota yang profesional, percaya diri, serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Pengalaman Konser :
Malam penganugerahan SCSI Award – SoloPos, Quality Hotel (2005)
Konser bersama Dea Imut, Goro Assalam (2005)
Konser tunggal “Harmoni Bunga Rampai” Auditorium UNS (2006)
Resepsi kenegaraan peringatan 17 Agustus di Grahadi Jawa Tengah, Semarang (2006)
Malam Final Pemilihan Putra Putri Solo, Balaikota Solo (2006)
Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial (HKSN) Stadion Manahan (2007)
Malam Final Pemilihan Putra Putri Solo, Balaikota (2007)
Sidang Paripurna DPRD Kota Surakarta (2008)

Sekretariat :
Jl. Yudistiro No.28 Serengan Solo 57155
Telp.0271-630270

Teater Kail : TRAGEDI MURNI


Tragedi Murni menyajikan sebuah tema universal dan aktual, yaitu hilangnya Murni. Karya ini merupakan pertunjukan puisi yang dikemas dengan teater.

Naskah/Sutradara/Artistik : Sutarno SK
Ass Sutradara : Andreas Wjatno
Alamat : Jl. Makaliwe I Rt.07/06, Grogol, Jakarta Barat 11450

Jumat, 01 Agustus 2008

Voyage Of IE III


Independen Expression kembali menggelar karya-karyanya. Pada Kamis malam (31/7) di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, kelompok tari kontemporer ini mementaskan 3 karyanya. Garis Lurus, Bujang Ganong Gandrung dan Bercermin, itulah judul karya yang mereka pergelarkan. Penataan panggung terlihat sederhana karena pada penyajian kali ini lebih difokuskan pada olah geraknya dan komposisi tarinya. Akan tetapi para penyajinya mampu memberikan sajian tari yang menarik dengan penataan set yang sederhana tadi. Karakter penarinya yang memang kuat, mampu memberikan sajian yang membuat penonton sangat antusias.

Independen Expression (IE)
Sebuah kelompok anak muda kreatif yang terdiri dari beberpa penari dan pemusik. Berdiri pada bulan Februari tahun 2002 yang berdomisili Solo. IE dimaksudkan sebagai wadah kreatif yang berangkat dari kebersamaan dan keinginan untuk belajar bersama. Menjadi ruang bebas pada fase perkembangan untuk pematangan diri menjadi seniman.


Garis Lurus
“Garis lurus dalam ruang menjdi simbol kekuatan untuk membuat ketegasan di setiap tindakan yang terkadang masih sering bengkok” Itulah pengantar dari karya Garis Lurus ini. garis Lurus merupakan karya yang menggambarkan kegelisahan seorang manusia dalam menyikapi kehidupan. Kegelisahan manusia sebagai pemimpin, pemimpin keluarga, masyarakat negara dan dirinya sendiri. Pada suatu keadaan manusia akan dihadapkan pada situasi yang sulit yang membutuhkan sikap tegas dan bijaksana layaknya membuat sebuah garis yang tegak lurus dalam menentukan setiap pilihan dalam hidup. Kebiasaan sungkan, ewuh pekewuh, kadang juga malu-malu bisa menghambat manusia untuk bersikap tegas. Dan ini kadang sudah menjadi budaya dari suatu masyarakat. Hal inilah menjadikan dilema bagi seseorang tersebut dalam mengambil sikap tegas dan untuk mampu semisal mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah, dan bukannya samar-samar atau abu-abu.



Bujang Ganong Gandrung
Setiap manusia pastilah memiliki naluri menyukai lawan jenisnya. Karena itu semua sudah menjadi kodrat dari Tuhan Yang Maha Esa, demikian halnya Bujang Ganong. Tokoh Bujang Ganong digambarkan menjadi sosok manusia biasa dan mempunyai hasrat yang wajar laiknya manusia jaman sekarang yang sering kali stress lantaran dimabuk asmara.sebuah pencitraan baru yang berangkat dari tokoh Bujang ganong (tradisi reog) untuk membentuk nuansa yang sesuai dengan kondisi kekinian.
Pada awalnya Bujang Ganong adalah punggawa berpangkat patih yang gagah berwibawa serta sangat setia pada rajanya. Bujang Ganong tidak menolak tatkala diutus untuk melamar Dewi Songgolangit di Kediri. Namun, begitu Bujang Ganong menemukan Dewi Songgolangit cerita menjadi lain, justru Bujang Ganong jatuh hati pada Dewi Songgolangit. Pada akhirnya karena Bujang Ganong telah berkhianat pada Sang Prabu Klana Suwandono, maka dia menerima karma dari dewa. Dan Dewi Songgolangit juga dikutuk menjadi batu.


Bercermin
Proses perjalanan dalam memperbaiki diri melalui introspeksi adalah fokus pada karya ini. Wujud koreografinya menggambarkan berbagai perasaan yang hadir saat bercermin, yaitu rasa bangga, sombong, takut, sedih, dan marah hadir secara tiba-tiba dan berubah setiap saat. Ide garap bentuknya adalah komposisi tari duet, yang menggambarkan seseorang sedang bercengkerama dengan sosok bayangannya yang hadir saat bercermin. Proses bercengkerama antara seseorang dengan bayangannya tersebut kadang-kadang menimbulkan konflik batin. Konflik batin terjadi karena adanya tarik-menarik antara berbagai perasaan yang hadir saat itu. Dari tumpukan konflik batin yang terjadi, puncaknya pada keprasahan kepada Sang Pencipta.


Tentang Koreografer
Dedy Satya Amijaya lahir di Ponorogo Jawa Timur Indonesia pada 7 Nopember 1982. Mulai mengenal tari sejak usia 13 tahun dalam paguyuban seni Reog mini Si Buyut Katong. Selepas dari SLTA kemudian melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan diselesaikannya dalam waktu 6 tahun, dengan mendapat gelar sarjana pada tahun 2007. Disela-sela kesibukannya selama kuliah, sering aktif mengikuti workshop dengan koreografer-koreografer terkenal baik dari dalam maupun luar negeri. Terlibat karya dengan para seniornya seperti Eko Supriyanto yang berpentas ke luar negeri. Selain itu juga sudah membuat beberpa karya sejak tahun 2003- sekarang dan salah satunya adalah “Bujang Ganong Gandrung” ini yang mendapat penghargaan sebagai 5 penyaji terbaik dalam festival seni pertunjukan di Kota Malang th 2008, dan sebagai penyaji dan musik 10 terbaik dalam festival kesenian di JCC, Jakarta.

Kombor, 31/7/2008

Foto : Kombor

Golek Gerabah : jalan-jalan ke Bayat




Klaten adalah salah satu daerah penghasil kerajinan yang cukup besar. Berbagai barang-barang kerajinan tangan (handicraf) seperti Lukis Payung, Lukis Kaca, Gerabah, kerjainan bambu, meubel dan masih banyak lagi komoditi kejainan yang dihasilkan oleh masyarakat Klaten. Salah satunya adalah di desa Bayat. Di daerah ini terkenal sebagai penghasil keramik. Berbagai macam barang kermaik tersedia, mulai dari celengan (tempat menyimpan uang), kendi (tempat air minum), meja kursi taman, guci, sampai berbagai bentuk benda keramik jiplakan dari Cina.
Daerah Bayat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan Kasongan Jogyakarta memang agak mirip, hal itu dikarenakan terjadi pertukaran benda-benda keramik dari Kasongan, Bantul, Yogyakarta, dengan produk keramik dari daerah Bayat, Klaten. Ada kerja sama antara perajin Bayat dengan Kasongan. Banyak penjual di daerah ini menjual keramik dari Bayat juga menjual produk keramik dari Kasongan yang meniru-niru produk keramik Cina.
Ada perbedaan antara produk keramik Kasongan dan Bayat. Kalau produk keramik Kasongan mirip-mirip Cina seperti guci dan meja kursi, produk Bayat lebih ke etnik yang pembuatannya lebih rumit, khususnya dalam ornamen relief yang lebih bernuansa Jawa, tanpa nuansa warna-warna cerah. Namun, harga keramik dari Bayat lebih tinggi dibandingkan dari Kasongan. Dan kita tidak boleh saling meniru meskipun masing-masing perajin bisa membuatnya.
Para pedagang keramik di sini mengaku sering mendapat pesanan dari warga asing yang datang langsung ke rumahnya, mulai dari lampu taman, variasi kendi, mangkok, piring, dan lainnya. Pesanan setiap produk keramik berkisar sampai dengan ribuan buah keramik.



Pengaruh krisis dan ditimpa peristiwa pemboman di Bali, para pedagang keramik disini merasakan tak pernah lagi mendapat order dari turis asing. Tetapi pesanan dari kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang, dan lainnya tetap ada walaupun sedikit. Mereka mengaku sering mendapat order dari restoran atau kafe membuat piring dan mangkok antik. Sepertinya merebaknya budaya cafe dan minum kopi berpengaruh juga terhadap orderan mug, mangkuk dan piring di daerah ini.
Gerabah di Bayat juga telah di ekspor ke luar negeri. Setiap dua bulan atau sebulan sekali selalu ada pengusaha yang mengirim satu kontiner berbagai jenis produk gerabah dan keramikpaling banyak adalah untuk pasar eropa.
Meskipun perkembangan gerabah Bayat sudah memasuki dunia keramik bahkan mampu menciptakan produk yang inovatif, bukan berarti tidak ada lagi perajin gerabah tradisional. Masih banyak perajin yang setia memproduksi berbagai jenis gerabah tradisional seperti kendi, celengan, serta mainan anakanak, mulai dari wajan, cangkir dan lainnya. Dengan peralatan sederhana setia memproduksi kendi dan celengan. Celengan dihargai Rp 300 per biji dan kendi Rp 500-Rp 1.000 per biji. Mereka dapat memproduksi 1.000 kendi dan 1.000 celengan setiap bulan.

Kamis, 31 Juli 2008

Srandul


Darimanakah kesenian Srandul, banyak orang yang tidak tahu tentang hal ini. Termasuk para seniman Srandul dari desa Gunung Ungaran yang pada malam purnama 17 juli 2008 kemarin lusa pentas di Gedong Putih Mojosongo. Sepertinya mereka setuju bahwa kesenian itu adalah kesenian turun-temurun dari para pendahulunya.
Ada yang memaknai bahwa Srandul mempunyai kaitan dengan kisah tentang sumpah Kanjeng Sunan Kalijaga kepada pengikutnya. Konon, wali itu begitu gemas menyaksikan mereka hanya tetembangan dan mendendangkan pujian-pujian sembari menabuhi apa saja, sementara serambi masjid yang sedang direnovasi belum rampung. Padahal, pelafalan salawat mereka sangat tidak fasih alias pating srandul. Maka, jadilah srandul.
“Memang sulit menjelaskan asal-usul srandul” kata mereka. Mereka juga tak mempermasalahkan kebenaran kisah tentang Sunan Kalijaga itu. Yang pasti, telah turun-temurun mereka menjadikan srandul sebagai medium berkesenian sekaligus ritual kebudayaan. Srandul mereka pakai sebagai medium untuk ritus sedekah bumi atau ruwatan atau kalau ada pageblug (bencana). Dahsyatnya, mereka selalu nyrandul semalam suntuk!
Hanya diiringi dua angklung yang diberi ornamen bulu unggas, sebuah kendang sebagai penanjak, dan sebuah gong tiup dari bambu (instrumen khas kesenian lengger dari Banyumas), serta sekelompok penggerong, 16 adegan dikemas. Itu masih diawali adegan jejer 12 pemain, semacam prelude dan untuk berdoa (semacam suluk dalam pewayangan). Namun yang dipentaskan di Gedong Putih kemaren hanya sepenggalannya saja, dengan durasi kurang lebih 2 jam. Mereka membawakan srandul badut sawahan. Badut? Ya, 16 adegan yang ada selalu diembel-embeli kata ''badut''. Misalnya, ''Badut Ngarep'' (adegan I), ''Badut Manuk''(II), atau pengakhir adegan ''Badut Kuthut''. Ceriteranya adalah tentang seorang yang mempunyai sawah yang luas namun tak kuasa mengolahnya.
Ada kesan, sesuatu yang pating srandul, bagi mereka, hal ini dimanifestasikan dengan cara membadut. Dialog-dialog antara pemain dengan kru selalu berupa upaya ''membanyol'', meskipun diucapkan dengan nada datar.
Tapi, badut dan membadut pada pertunjukan srandul tidak bisa diidentifikasi begitu saja dengan ungkapan ''menghibur secara murahan''. Bagi mereka, itu sebuah ritus. Boleh jadi, doa, tari, dialog berkesan ''membanyol'' dan atraksi bernuansa mistis seperti menelan obor untuk merampungi pertunjukan adalah medium ritual paling pas untuk berhubungan dengan Tuhan.
Pembadutan bisa jadi cara paling representatif buat mereka untuk bisa ''akrab'' dengan Sang pencipta. Kalau tidak untuk itu, mengapa mereka menyebut Tuhan sebagai Mas Pangeran dalam doa mereka? Bukankah panggilan ''mas'' dalam keseharian adalah panggilan akrab? ( Suara Merdeka, 21 sept 2002)
Acara yang diselenggarakan oleh Gedong Putih ini adalah kegiatan rutin setiap bulan purnama sebagai upaya melestarikan budaya dan kesenian tradisional. Dengan kegiatan ini maka diharapkan menjadi sarana sosialisasi tentang adanya kesenian tradisi dimasyarakat sehingga tidak hilang atau tergerus oleh kesenian-kesenian kontemporer saat ini.

Kombor, juli 2008

Foto oleh Bejo.

Selasa, 29 Juli 2008

Galabo : Wisata Kuliner Kota Solo




Kota Solo semakin hari seiring perkembangan jaman, kota ini terus menata diri, mempercantik wajah lota dan melengkapinya dengan berbagai ajang promosi dan gelaran. Solo juga dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur. Kegiatan ekonomi kota berlangsung 24 jam. Tak perlu khawatir jika anda berkunjung ke Solo kebetulan Anda memerlukan barang-barang kebutuhan pokok dan jajanan di tengah malam hingga pagi hari.

Solo juga terkenal sebagai kota wisata kuliner. Berbagai masakan yang menawarkan ciri khasnya masing-masing banyak tersebar di seluruh wilayah Solo. Sebut saja srabi Notosuman, Nasi Liwet Keprabon, Gudeg ceker, Tengkleng Pasar Klewer, Nasi Timlo, HIK ( hidangan istimewa ala kampung) dan masih banyak lagi tempat-tempat kuliner yang Mak nyuusss..... lagi.

Penataan PKL yang dilakukan oleh Pemkot Solo, dan Bapak Jokowi sebagai Walikotanya, telah memunculkan kantong-kantong atau pusat-pusat Kerajinan, Klithikan ( barang bekas ) di Notoharjo, Komplek Manahan ( makanan dan pasar minggu pagi ), dan yang terakhir ini adalah Galabo (Gladak Langen Bogan Solo).


Galabo adalah pusat jajanan dan makanan di Solo. Di tempat ini lengkap terdapat semua masakan khas Solo dan sekitarnya. Mulai dari makanan ringan, minuman hingga makan besar ada di tempat ini. Tempat ini sekaligus menjadi publik space bagi masyarakat Solo dengan masyarakat di sekitarnya dan luar kota. Di tempat ini sangat mungkin sekali terjadi interaksi sosial yang luas. Di sinilah tempat penyatuan rasa, budaya, adat dan lain sebagainya. Efektif sekali sebagai tempat sosialisasi untuk suatu wacana baru.

Berlokasi di pusat kota yaitu di daerah Gladak, tepatnya di sebelah selatan Beteng Vastenberg berada di jalan depan Pusat Grosir Solo (PGS). Kalau siang hari tempat ini adalah jalanan umum, akan tetapi jika malam tiba, tempat ini berubah menjadi restauran terbuka.

Bagi Anda yang senang berwisata kuliner tidak ada salahnya jika Anda bersama dengan keluarga, saudara, rekan-rekan, pasangan, dan kalu mungkin ingin menikmati makan malam sendiri di tempat yang sangat ramai silahkan datang dan mencicipi masakan-masakan di Galabo ini. Selamat mencoba.........



Kamis, 24 Juli 2008

Bangun Pagi....aku lain hari ini....


Sebuah sms telah membangunkanku pagi ini tadi. Sms dari seorang yang telah sangat akrab denganku, seorang teman yang sebenarnya lebih dari seorang teman. “Gutten Morgen ! Semoga hari ini semua berjalan seperti apa yang menajadi harapan kita ya... Semoga maz kombor bahagia dengan semua hal disekitarnya...Take Gud care maz...” Begitulah isi sms itu.

Aku senang sekali dapat bangun pagi hari ini, sms itu rupanya telah menggantikan alarm hp-ku yang telah aku set pada pukul 05.00. Namun karena terlalu kebo-nya kalo aku lagi tidur jadi aku tidak mendengar sama sekali dering alarm hp-ku itu.

Ya, aku berharap hari ini semua berjalan dengan lancar. Tentang segala urusanku dan barangkali juga segala urusan dia yang telah mengirimkan sms itu padaku. Dengan pekerjaan, dengan latian setiap harinya dan setiap detik yang kulakukan. Semoga dapat menghasilkan “sesuatu” yang tentunya mempunyai makna.

Aku menganggap bahwa sms tadi adalah sebuah do’a, harapan di pagi hari, sebelum kita menjalani hari ini. O.. ya aku menjawab sms tadi dengan pesan singkat saja. “ Semoga juga dengan engkau.....”. Ya karena memang suasana Solo pada hari-hari ini adalah sangat dingin sekali ketika pagi beranjak, akupun sebenarnya masih malas untuk bangun. Maka aku membalas sms tadi dengan pesan yang sesingkat itu. Namun aku sebenarnya juga mempunyai pengharapan yang sama seperti yang dia smskan tadi.
Thanks sista, kamu telah membuat hari ini berbeda dengan biasanya......

Rabu, 16 Juli 2008

Bali = Padang
















(sunset di Kuta)

Pengalaman di Bali selama 4 (empat) hari membuat satu pencanderaan terhadap Bali bahwa Bali ternyata sama dengan Padang. Hal ini bukan sama dalam artian daerahnya sama dengan Padang, atau kulturenya, atau masyarakatnya. Tetapi selama empat hari di Bali, aku yang selama ini tinggal di Solo yang terbiasa dengan suasana malam hari, kesusahan untuk mencari tempat makan malam. Setiap kali pulang malam, karena kebetulan di sana kita mengerjakan event seminar yang pulangnya malam terus, setelah lewat jam 22.00 WITA tidak ada warung makan yang buka di Denpasar. Setelah muter-muter lama selalu yang ada atau buka adalah RM Masakan Padang yang selalu buka 24 jam (salut pada orang Padang yang suka bekerja keras!!). Sejak saat itu aku menyebutnya “Bali = Padang”.



























Pantai Depok Jogja


Jika anda suka sekali dengan masakan sea food maka datanglah ke Pantai Depok di Jogjakarta. Pantai yang berjarak 1,5 kilometer dari Parangtritis ini, banyak dibuka warung makan-warung makan sea food. Umumnya, warung makan yang berdiri di pantai ini menawarkan nuansa tradisional. Bangunan warung makan tampak sederhana dengan atap limasan, sementara tempat duduk dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Sederhana, tetapi warung makan ini tampak bersih, nyaman dan mempunyai pemandangan yang bagus dengan daratan pasir putih di depannya dan pantai yang luas sehingga kita dapat sepuasnya melihat laut sambil menyantap sea food.
Beragam hidangan sea food bisa dicicipi. Hidangan ikan yang paling populer dan murah adalah ikan cakalang, seharga Rp 8.000,00 per kilogram, setara dengan 5 - 6 ekor ikan. Jenis ikan lain yang bisa dinikmati adalah kakap putih dan kakap merah dengan kisaran harga Rp 17.000,00 - Rp 25.000,00 per kilogram. Jenis ikan yang harganya cukup mahal adalah bawal, seharga Rp 27.000,00 - Rp 60.000 per kilogram. Selain ikan, ada juga kepiting, udang dan cumi-cumi.


Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman seperti yang kita cicipi, hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.




Untuk menikmati hidangan laut ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan.




Menengok Gunung Bromo




















Perjalanan kami ke Bromo berangkat dari Solo hari Jumat malam dengan membawa mobil sendiri. Sampai di Malang, mampir dulu di Batu daerah Songgoriti untuk sekedar sarapan dan membasuh muka. Sebenarnya kalu mau berenang di sini juga ada kolam renang yang buka mulai pukul 08.00 WIB.Setelah puas di Songgoriti, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Malang kota. Kami mencari sebuah masjid untuk menumpang mandi. Setelah mandi dan cari makan perjalanan yang sesungguhnya baru kita mulai. Kami berencana bermalam di Pananjakan untuk melihat sunrise.

( kawah Bromo mengeluarkan asap)
Puncak Penanjakan di malam minggu sangat ramai oleh pengunjung yang menanti pemandangan matahari terbit. Tersedia banyak Jeep sewaan dgn pengemudinya yg piawai. Terdapat 200-an jeep yg siap mengantar dgn tarip 250.000 pp dari Cemoro Sewu ke Kawah Bromo dan Penanjakan round trip. Penanjakan yg merupakan titik tertinggi di Bromo-Tengger dapat dicapai dari Cemoro Lawang maupun dari Tosari. Dari Cemoro Lawang turun ke dalam kaldera berpasir yang amat luas seperti didalam sebuah mangkuk kawah raksasa dgn dindingnya yg berketinggian 300 meter; dari sini menanjak lagi 600-an meter kearah gunung melalui jalan aspal sempit berkelok-kelok dgn sedikit bahu jalan ditepi jurang yang cukup utk kendaraan satu arah, dan sudut tanjakan yang cukup heboh 60 derajat.

Sebenarnya Penanjakan paling mudah dicapai dari arah Pasuruan, Tosari dgn tanjakannya yg normal. Jalur inilah yang kami lalui mengingat keamanan berkendara dengan mobil sendiri. Dari malang kami menuju ke arah Tosari. Sempat beberpa kali harus bertanya pada penduduk lokal yang ramah karena kita beberapa kali tersesat.

Dari Pananjakan, Gunung Bromo, Batok, Kursi dan Widodaren terlihat kecil dgn latar belakangnya Gunung Semeru yg batuk-batuk setiap 15 menit. Setelah Penanjakan perjalanan diteruskan ke puncak Bromo dgn mengarungi lautan pasir.

( menunggu datangnya rejeki )


Selain dari pada kuda, kendaraan hanya bisa mendekati 500 meter dari awal undakan dan diteruskan dgn berjalan kaki, sebelum mendaki tangga sampai ke tepi kawah yg masih cukup aktif.
NB : Wasis, Che & Ung tanpa kita nekat tak da kesempatan kita kesana.....ingat pada saat mobil kita seperti berjalan di atas awan, kanan kiri kita adalah jurang yang terjal. Pada saat itulah aku dekat dengan Tuhan.