Rabu, 20 Januari 2010
Jalur Tanjakan : Offroader Mampir Warung
Gowess.....Minggu (3/1/10) yang lalu tim sego abang mengambil rute jalur tanjakan Solo - Delingan - Karangpandan. Udara pagi yang sejuk dengan suasana pegunungan yang menyenangkan membuat pikiran sementara menjadi fresh kembali.
Perjalanan Solo - Delingan kita lalui dengan menyusuri jalan protokol Karanganyar dengan jalan yang telah di aspal halus dengan tanjakan yang panjang. Banyak juga rombongan gowess juga mengambil jalan ini untuk menuju ke Karangpandan. Tanjakan cukup lumayan untuk pemanasan.
Setelah tiba di Delingan kita istirahat sebentar untuk ambil napas dengan menikmati secangkir teh jahe anget yang nikmat. Setelah cukup beristirahat kita lanjutkan perjalanan Delingan - Karangpandan dengan mengambil jalur jalan desa. Tanjakan lebih tinggi dari jalur sebelumnya. Kita melewati daerah perkampungan. Pada setengan perjalanan Dodot sudah tak mampu lagi mengayuh pedalnya karena kaki kram yang disebabkan oleh penetrasi yang kuat. Disamping karan badannya yang cukup subur sehingga lumayan berat, dikarenakan juga sudah lama kita tidak mengambil jalur tanjakan. Jalur ini cukup membuat napas kita terengah-engah sehingga harus mampir sebentar di warung warga sekitar untuk menambah energi dengan minum Mizone....hehehee.
Senin, 14 Desember 2009
Offroader Gak Bisa Belok Nubruk Pasir
Minggu (13/12) kemarin adalah pertama kali Dodot membawa polygon astroznya. Kita bertiga (Dodot, Om Bagus, Kombor) akan mengambil jalur memutari kawasan wisata Waduk Cengklik Boyolali. Pagi itu udara sejuk dan suasana pedesaan masih kental terasa.
Kejadian yang membuat kami sangat terkesan di Gowes kali ini adalah insiden turunan curam yang mengakibatkan si-Astroz harus jumping tinggi di tumpukan pasir dan hampir-hampir saja masuk ke sawah.
Turunan ini memang baru saja di bangun oleh warga sekitar, jalan yang dulunya tanah liat yang masih lumayan enak kita lewati ternyata berubah menjadi jalan cor semen (beton). Pasir sisa pembangunan masih banyak berserakan di jalan sehingga menyebabkan turunan itu sangat licin bila ngerem mendadak. Pada saat Om Bagus menuruni jalan ini, Dodot menguntit di belakangnya sehingga Om Bagus harus kawatir jika ngerem mendadak akan tertabrak oleh Dodot sehingga Om Bagus yang sudah hafal jalan ini langsung bisa melaju kencang. Namun jalanan yang menikung tajam di turunan yang curam itu belum di ketahui oleh Dodot sehingga ia coba ngerem, akan tetapi roda belakangnya malah selip sehingga panik dan tak dapat membelokan Astroznya. Walhasil ia menubruk pasir di tikungan terakhir dan sempat jumping namun segera dapat ngerem yang membuat ia selamat dari lumpur di sawah....
Selasa, 17 November 2009
Tanggul Bengawan Solo
Tanggul Sungai Bengawan Solo di daerah Mojolaban memang masih dalam proyek pelebaran dan penambahan tinggi. Proyek tersebut dimaksutkan agar masyarakat daerah sekitar sungai itu tidak mengalami banjir akibat sungai yang meluap.
Minggu pagi (15/11) itu tanah di jalan atas tanggul masih basah akibat hujan yang mengguyur kota Solo pada Sabtu malamnya. Jalan di atas tanggul itu kelihatan tidak becek dan pada setengah jalan dari jembatan Mojo itu tanahnya malah cenderung kering. Aku coba terus saja susuri tanggul itu berharap nantinya akan sampai di Solo Baru, Sukoharjo.
Namun ternyata sudah setengah perjalanan, aku tak mampu melanjutkan perjalanan itu karena sungguh tanahnya sangat lengket. Roda sepeda sudah tidak dapat berputar lagi dan sepatuku sudah seberat 2 kg. Maka aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas ke rumah penduduk setempat dan membersihkan sementara sepeda itu dari tanah liat yang sungguh lengket luar biasa.
Perjalanan menyusuri tanggul akhirnya harus aku urungkan untuk memutar arah untuk menuju arah Bekonang dan selanjutnya ke utara di daerah Palur dan kembali ke Solo.
Sungguh aku ingin mengulanginya sekali lagi kalo tanahnya sudah mengering lain waktu.
Minggu pagi (15/11) itu tanah di jalan atas tanggul masih basah akibat hujan yang mengguyur kota Solo pada Sabtu malamnya. Jalan di atas tanggul itu kelihatan tidak becek dan pada setengah jalan dari jembatan Mojo itu tanahnya malah cenderung kering. Aku coba terus saja susuri tanggul itu berharap nantinya akan sampai di Solo Baru, Sukoharjo.
Namun ternyata sudah setengah perjalanan, aku tak mampu melanjutkan perjalanan itu karena sungguh tanahnya sangat lengket. Roda sepeda sudah tidak dapat berputar lagi dan sepatuku sudah seberat 2 kg. Maka aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas ke rumah penduduk setempat dan membersihkan sementara sepeda itu dari tanah liat yang sungguh lengket luar biasa.
Perjalanan menyusuri tanggul akhirnya harus aku urungkan untuk memutar arah untuk menuju arah Bekonang dan selanjutnya ke utara di daerah Palur dan kembali ke Solo.
Sungguh aku ingin mengulanginya sekali lagi kalo tanahnya sudah mengering lain waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)







